Paintball, Simulasi Tempur Pemicu Adrenalin


PARA pemain paintball berfoto sebelum memulai pertandingan di Zone 235 Simulasi Tempur, Cikole, Lembang, Rabu (7/7/2010).

TIDAK perlu pergi ke Palestina untuk dapat mendengar letupan senjata api dan merasakan suasana perang. Saat ini, Anda bisa melakukan simulasi pertempuran tanpa harus khawatir mengalami cedera fisik melalui sebuah permainan yang biasa disebut Paintball.

Seperti yang dilakukan oleh sembilan orang mahasiswa dari jurusan Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran (Unpad), di Zone 235 Simulasi Tempur, Cikole, Lembang, Rabu (7/7/2010). Mereka mengenakan seragam loreng khas militer, goggle (masker pelindung wajah), sambil membawa senjata berisi 40 butir peluru cat yang disewa khusus dari tempat tersebut.

Setelah terbagi menjadi dua tim, peserta diberi arahan tentang tata cara dan aturan main oleh para instruktur. Permainan paintball ini dipimpin oleh satu orang wasit yang bertugas untuk memantau sportifitas pertandingan. Peserta akan dinyatakan kalah dan harus meninggalkan area pertempuran apabila telah terkena tembakan dari lawan mainnya.

Di arena pertempuran, masing-masing regu saling baku tembak untuk memburu lawan mainnya. Sebagian ada yang sibuk bersembunyi dibalik tong, seng atau pohon pinus. Dengan penuh waspada, matanya melirik arah kanan dan kiri sambil mengendap membidik lawan. Sesekali ada pula yang nekad berlari mengejar lawan, sambil terus menembak.

Arena yang dibangun di tempat tersebut, didesain layaknya suasana perang sungguhan. Rimbunnya pepohonan yang dipadu dengan beberapa dekorasi pertahanan seperti seng dan tumpukan ban, makin memperkuat unsur militeristis disana.

Terlebih lagi, sore itu rintik hujan membasahi tanah di sekitar arena pertandingan. Tidak jarang para pemain tergelincir akibat licinnya medan simulasi pertempuran. Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi esensi dari permainan paintball tersebut. “Malah lebih seru kalau tanahnya licin kayak gini. Jadi lebih ada tantangannya,” ucap Edmiraldo Siregar (23) atau yang lebih akrab disapa Aldo, salah satu peserta permainan.

Ada tiga jenis turnamen yang dapat dipilih dalam bermain painball, yaitu turnamen frontal, perebutan bendera dan pembebasan sandra. Dalam turnamen frontal, peserta dari kedua belah kubu hanya diharuskan untuk menyerang lawannya.

Berbeda dengan turnamen perebutan bendera. Selain menyerang, para peserta diharuskan mengambil bendera yang diletakan di tengah-tengah arena pertandingan. Tim yang dinyatakan menang adalah  mereka yang berhasil merebut bendera tersebut, serta membawanya ke markas.

Turnamen pembebasan sandra tidak kalah seru. Kali ini, masing-masing kubu berperan sebagai terrorist dan counter terrorist. Pertandingan dilakukan dalam ruangan berliku yang dindingnya terbuat dari seng. Sandra akan disembunyikan dalam salah satu ruangan, dan harus dipertahankan oleh terrorist. Sedangkan counter terrorist bertugas untuk membebaskan sandra tersebut.

Sarat Makna

Paintball diyakini oleh sebagian penghobinya sebagai olahraga yang tidak hanya menjanjikan ketegangan semata, namun juga sarat akan makna. Hal tersebut dapat terlihat ketika berada dalam medan simulasi pertempuran.

WASPADA, mengintai lawan.*

“Main paintball ini buat saya gak hanya sarana untuk melepas penat, tapi banyak pelajaran yang dapat diambil. Misalnya dalam kekompakan tim atau pengaturan strategi,” kata Aldo.

Bagi Aldo, permainan ini mengandung arti tersendiri, yang kelak dapat menjadi acuan untuk membangun tim yang solid dalam sebuah organisasi. Selain itu, permainan ini juga dinilainya dapat melatih kekompakan dan menjunjung tinggi sportivitas.

Namun nyatanya, dalam setiap permainan, masih ada saja anggota tim yang lari terbirit-birit akibat sibuk menyelamatkan diri. “Nah, dalam bekerja atau berorganisasi kita enggak boleh seperti itu. Kita harus tetap bekerjasama secara solid,” katanya sambil tertawa.

Membuat Ketagihan

Banyak jenis hiburan yang dapat dinikmati untuk mengisi waktu luang dalam berlibur. Namun, tidak semuanya memiliki tantangan dan dapat memicu adrenalin. Setidaknya hal itu yang dirasakan oleh Hendi Eka Bramantika (24), mahasiswa asal Jakarta yang mengenyam pendidikan di kota Bandung.

Selain dapat memicu adrenalin, menurutnya, bermain paintball juga dapat membuat ketagihan. “Emang sih capek juga dari tadi kejar-kejaran sama yang lain, tapi cuma permainan ini yang bisa bikin saya ketagihan. Dari dulu saya sering main paintball di Jakarta. Kalau disini, saya baru pertama kali main,” ungkap Bram, panggilan akrabnya, saat berbincang dengan “PR” seusai pertandingan.

Lebih lanjut Bram mengatakan, selain membutuhkan kesiapan fisik, dalam bermain paintball dibutuhkan pula konsentrasi agar dapat menembak tepat sasaran. “Sedikit lengah saja kita bisa kena tembak. Makanya kita harus tetep fokus untuk memperhatikan dimana posisi lawan,” tuturnya.

Hal senada dikatakan oleh Ricky Rifin (25). Walaupun baru pertamakali mencoba permainan paintball, Ricky mengatakan, untuk kedepannya ia bersama timnya akan membuat jadwal rutin untuk bermain paintball. “Karena harganya lumayan mahal, jadi kayaknya cukup kalau mainnya dua bulan sekali,” katanya.***

Albiansyah


Terinspirasi Oleh Sang Gembala

ZAMAN dahulu, mungkin kita mengenal permainan tradisional berupa perang-perangan dengan menggunakan bambu. Bambu tersebut diisi dengan butiran kacang hijau sebagai peluru, dan biasa ditembakkan dengan cara ditiup.

Namun seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, bentuk dari permainan simulasi perang pun makin bervariatif. Bahkan permainan perang via online (dunia maya), seperti Point Blank (PB) dan Counter Strike (CS) makin banyak diminati oleh masyarakat kita, khususnya kalangan remaja dan anak-anak.

Begitu juga dengan aplikasi permainan perang dalam dunia nyata. Disini, ada dua jenis simulasi perang cukup terkenal di kalangan pecinta permainan perang, yaitu paintball dan air soft gun.


BIDIK*

Tidak hanya di Indonesia, permainan simulasi perang juga telah dikenal di Amerika Serikat sejak tahun 1980-an. Paintball misalnya. Semula, senapan yang biasa digunakan dalam paintball ini diciptakan sebagai alat pelontar bola cat. Alat ini digunakan untuk mempermudah pekerjaan penggembala, dalam menandai hewan ternak ataupun pepohonan.

Namun dalam perkembangannya, paintball makin dikenal oleh masyarakat dari berbagai negara. Bahkan, paintball tercatat sebagai olahraga ekstrim terpopuler di Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 2002. “Dulu di Amerika, sapi biasa ditandai pake bola cat itu. Tapi lama-lama, hal ini menjadi sebuah olahraga dan hobi,” ucap Adrizal (34), manajer oprasional Zone 235 Simulasi Tempur.

Di Indonesia, paintball pertama kali diperkenalkan sejak tahun 1996 dengan membuka lokasi di kawasan Gunung Putri, Bogor. Makin lama olahraga ini makin dikenal di tempat lain, sehingga banyak dibuka arena paintball di berbagai tempat.

Olahraga Minim Resiko

Walau pun sepintas terlihat sama, namun paintball memiliki perbedaan dengan air soft gun. Adrizal mengatakan, meski terbilang olahraga ekstrim, dalam kenyataannya paintball cukup aman untuk dimainkan dibandingkan dengan air soft gun. “Kalau air soft gun memang nggak ada suaranya. Tapi pelurunya lebih kecil dan lebih berbahaya,” katanya.

Lebih lanjut Adrizal mengatakan, karena bentuknya yang sangat identik dengan senjata api asli, air soft gun tidak dapat dijual bebas dipasaran. “Kalau orang awam ngeliat air soft gun, pasti mengira pistol beneran. Kalau paintball nggak, bentuknya sangat beda jauh dengan senjata beneran,” tuturnya

Senapan yang digunakan dalam bermain paintball sebagian besar merupakan produk Amerika, walaupun ada sebagian yang buatan Thailand. Bobotnya tidak lebih dari dua kilogram, shingga senapan dapat diangkat dengan cukup leluasa. Kekuatan dan jarak tembaknya pun dapat diatur sesuai kebutuhan. Dalam permainan paintball biasanya jarak tembak senapan diatur hingga 20 meter.

Amunisi peluru yang digunakan berbentuk bulat seukuran gundu (kelereng). Hanya saja, peluru ini terbuat dari karet tipis yang berisi cat berwarna. Tipisnya lapisan karet inilah yang membuat peluru mudah pecah ketika telah terlontar dari senapan, dan tidak akan berakibat fatal walaupun mengenai kulit.

Menurut Adrizal, permainan paintball ini dapat dilakoni siapapun. Tidak hanya kalangan remaja, wanita dan anak-anak sekalipun banyak yang tertarik untuk ikut serta dalam permainan ini. “Banyak anak-anak juga yang ikut main bersama keluarganya. Mereka diberi perangkat pengaman berupa seragam dan pelindung wajah sebelum mulai bermain. Jadi walaupun kena tembak ya nggak apa-apa,” katanya.***

Albiansyah

(Dimuat di harian Pikiran Rakyat, edisi: 1 Agustus 2010)

Iklan

Satu pemikiran pada “Paintball, Simulasi Tempur Pemicu Adrenalin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s