The Real Cat’s Lovers: It’s My Mom!


Banyak orang yang ngaku-ngaku sebagai pecinta satwa. Padahal dalam kenyataannya, yang mereka lakukan gak lebih dari sekedar menjaga pamor dan mengejar keuntungan finansial…

KALAU suatu saat Anda berkunjung ke rumah orang tua saya di kawasan Antapani, Bandung, salah satu hewan yang dapat dengan mudah Anda temui di dalamnya adalah kucing. Ya, rumah sederhana yang berukuran tidak lebih dari 10 meter persegi ini, dihuni oleh lima ekor kucing kampung dari berbagai warna, usia dan kondisi.

jadwal makan para kucing kampung*

Beberapa waktu lalu, saya pernah bertanya kepada mama, “Ma, kenapa sih dari dulu mesti pelihara kucing kampung? Kenapa nggak sekalian pelihara kucing anggora atau persia?” tanya saya heran. “Kan lumayan nanti kalau beranak bisa dijual mahal.”

Dengan singkat mama hanya menjawab, “Da mun geus nyaah mah beda atuh (ya kalau sudah sayang sih berbeda),” ungkapnya dengan mantap.

Pertanyaan dan argumen yang saya lontarkan ini jelas bukan tanpa alasan. Karena dalam kesehariannya, biaya yang dikeluarkan oleh mama untuk perawatan kucing-kucing kampung ini tidak jauh beda dengan perawatan kucing ras.

Kalau coba dihitung, biaya untuk pakan kucing selama satu minggu saja jumlahnya bisa mencapai angka Rp. 100.000 – 200.000. Maklum, selain rutin diberi makan ‘nasi campur pindang’, kucing kampung yang bersemayam di rumah ini juga gak pernah lepas dari beberapa cemilannya seperti Friskies, Wiskas, Royal Kenin atau Pro Plan. Oya, nominal tersebut juga belum termasuk untuk biaya membeli pernak-pernik, vitamin, hingga ongkos memanggil dokter hewan kalau kebetulan ada salah satu kucing yang sakit.

Sekarang, mari kita berandai-andai. Andai lima kucing yang ada di rumah saya ini merupakan kucing ras (Persia, Anggora atau sejenisnya), meski belum tentu balik modal, tentunya biaya perawatan dapat sedikit terbayar saat kucing-kucing ini berhasil mendapat keturunan.

Dari informasi dan pengamatan yang saya dapat, satu ekor anakan kucing Persia (tanpa sertifikat) harganya berkisar antara Rp. 700.000 – 1.000.000. Untuk anakan kucing Persia dengan sertifikat, harganya bisa lebih edan, yaitu bisa diatas Rp. 2.000.000. Andai satu ekor kucing menghasilkan 3 ekor anak? Ya loe coba aja hitung aja sendiri berapa rupiah fulus yang dapat kita kantongi. Hehehe!

Oya, bisnis ini masih terhitung cukup prospektif loh. Para penghobi kucing nyatanya gak pernah hilang meski banyak jenis binatang peliharaan lain yang naik daun. Salah satu buktinya bisa kita lihat dari banyaknya kontesan yang ikut berpartisipasi setiap diselenggarakan kontes satwa.

Pemasaran/ penjualannya pun terbilang cukup mudah. Apalagi di zaman serba modern yang memungkinkan transaksi jual-beli kucing dapat dilakukan melalui dunia maya.

Tapi dengan kondisi sekarang (memelihara kucing kampung), semua hitungan itu akan sangat mustahil terwujud. Andai kucing kampung yang ada di rumah ini bertambah, mana ada orang yang mau membelinya dengan harga tinggi? Yang ada, kucing-kucing ini malah menjadi hama, mengurangi jatah makan manusia, dan membuat mubazir. Nah loh!

Karena itu, sebelumnya saya sempat berpikir, nggak ada salahnya juga toh menyalurkan hobi sambil mendatangkan keuntungan finansial? Kalau peribahasa yang tepatnya sih mungkin, “Sambil menyelam minum air.”

***

Ngomong-ngomong masalah kucing kampung, rasanya sedikit kurang afdol juga kalau gak sekalian munculin foto-fotonya. Berikut adalah sebagian dari mereka:

1. Cembu

Si Cembu*

Yang ini namanya si Cembu. Kucing betina warna kuning ini punya ciri khas di bagian ekornya yang pendek, mungkin cacat/bawaan dari lahir. Postur tubuhnya bahenol. Dulu dia sering beranak, tapi sekarang sudah mulai ikut program Keluarga Berencana (KB) buat ngontrol jumlah kucing disini.

 2. Tata

Si Tata*

Ini kucing warna kuning kedua, kalau gak salah, dia anak pertama dari si Cembu. Ekornya lumayan panjang, tapi agak bengkok di bagian ujungnya. Kucing jantan ini punya hobi kawin, termasuk ngawinin ibu dan adik-adiknya sendiri. Hahaha!

3. Miyo

Si Miyo*

Yang ketiga namanya si Miyo, warnanya juga kuning. Sejarahnya, kucing betina ini dulu dapet nemu dari salah satu tukang penjual bunga yang ada di Antapani. Waktu pertamakali dibawa kerumah, kondisi kucing ini lumayan parah! Badannya kurus, kotor dan pastinya dekil (pokoknya standar kucing jalanan). Sekarang? Nilai sendiri aja deh gimana kondisinya…

4. Ketty

Si Ketty

Kalau yang ini sebenernya kucing punya tetangga depan rumah. Tapi berhubung diterlantarkan dan gak pernah dikasih makan oleh majikannya yang dulu, kucing ini sering mengemis makanan ke rumah. Gara-gara terlalu sering bolak-balik ke rumah, mama jadi jatuh cinta. Akhirnya, si Ketty pun diterima jadi penghuni tetap di rumah ini.

5. Liu

Si Liu*

Nah, kalau yang ini namanya si Liu. Satu-satunya kucing “lumayan bagus” yang ada di rumah ini. Beberapa orang bilang kalau si Liu adalah kucing dari jenis Persia Medium. Kucing jantan ini rambutnya lebat dan panjang; didominasi oleh warna hitam, tapi ada sedikit warna abu-abu di bagian pipi dan perutnya. Si Liu ini punya sifat yang sangat penakut, apalagi sama manusia yang nggak dia kenal. Hmmmm…

***

Oya, balik lagi ngomongin masalah hobi dan bisnis. Perlu juga kita sadari bahwa cinta adalah masalah perasaan, sedangkan bisnis merupakan masalah perhitungan. Dua hal berbeda yang mungkin akan menjadi sedikit runyam kalau disatukan.

Over all, itulah salah satu alasan kenapa saya menyebut mama sebagai “the real cat’s lovers”. Ia rela merawat balada kucing kampung yang sama sekali gak punya harga jual dengan tulus dan tanpa berharap imbalan.

Perasaan adalah suatu emosi yang timbul secara alami. Sebagian orang – mungkin tidak termasuk saya – akan amat merasa sulit untuk mengendalikan kemana perasaan itu harus diarahkan. Yang jelas, Anda tidak akan pernah dapat mengukur dalamnya perasaan seseorang dengan berorientasi pada sebuah logika perhitungan semata. Ada sebuah garis pemisah yang nyata. Tetapi, mungkin semuanya akan cukup sulit bila hanya dilukiskan dalam rangkaian kata.***

Iklan

7 pemikiran pada “The Real Cat’s Lovers: It’s My Mom!

  1. oh… wow….
    gue suka bgt tuh ma mama lo… yg gak pndang bulu…
    tp kyaknya dya lbih syang kucingnya dr pda anaknya..??” t_t –> p
    wkakakakakakkakaka

    Suka

  2. kameranya yang bagus apa emang kucingnya emang kucing mix, kayanya kalo aga jauh kalo disebut kucing kampung. apalagi kucing yang nomer 5, dijual diatas 1 juta aja pasti laku

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s