Kekejaman Dibalik Atraksi Lumba-Lumba!


“Si Lumba-lumba bermain bola,
Si Lumba-lumba bermain api,
Si Lumba-lumba menghitung angka,
Itulah dia si Lumba-lumba…”

Hampir semua orang mungkin nggak asing lagi mendengar petikan lagu tersebut. Pada sekitar tahun 1990-an, nama Bondan Prakoso (yang saat itu masih dikenal sebagai penyanyi cilik) mulai melejit dan dikenal publik berkat album perdananya yang berjudul “si lumba-lumba” itu.

Saya masih ingat betul, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), lagu itu terasa begitu akrab menemani keseharian saya. Lagu itu sering diputar melalui radio, televisi atau saat saya diajak berwisata ke Taman Impian Jaya Ancol. Bahkan kalau nggak salah, dulu saya pun sempat punya koleksi laser disk berisi video clip lagu itu. Hehehe.

***

Waktu berlalu dengan sangat cepat dari hari ke hari. Namun syukurlah, kecintaan saya terhadap satwa nyatanya masih belum luntur termakan waktu.

Pada pertengahan tahun 2010, tepatnya bulan April-Juni yang lalu, saya sempat melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Pikiran Rakyat, sebuah media massa lokal cukup ternama di Jawa Barat. Saat melakukan liputan, saya seringkali merasa terpanggil – dan terkadang ditugaskan – untuk mengangkat tema tentang alam dan satwa liar.

Beruntung, redaktur saya saat itu, ibu Yeni dan ibu Milly, tampaknya menyukai liputan yang saya buat. Alhasil, seringkali kali liputan mengenai “alam dan satwa” tersebut pun dimuat dalam satu halaman penuh dan menjadi laporan utama di Cakrawala dan Peercil (dua supplemen milik Pikiran Rakyat).

Sepak terjang saya dalam media massa itu pun berlanjut. Pasca melaksanakan PKL, redaktur memanggil saya kembali untuk menjadi kontributor di rubrik Kampus. Sebagai mahasiswa tua yang – saat itu – hanya tinggal sedikit mengambil mata kuliah, tentunya kesempatan itu tidak saya sia-siakan.

Bicara masalah liputan, saya selalu mencoba teliti dalam memilah dan mempertimbangkan kredibilitas narasumber.Maklum, dengan status sebagai kontributor, saat itu saya memang selalu dituntut untuk membuat liputan dengan konten yang berbobot. Jika tidak? Tentu saja saya mesti menelan konsekuensi, bahwa tulisan yang saya buat tidak dimuat di media tersebut. Akibatnya, jelas saya akan kehilangan honor alias tidak dibayar. Hehehe!

Dari kegiatan ini, tanpa sengaja saya banyak dipertemukan dengan berbagai kalangan masyarakat, mulai dari peneliti, pengamat, pakar, hingga aktivis satwa liar dan lingkungan hidup. Tidak sebatas dalam lingkup pekerjaan, saya juga seringkali berdiskusi dengan mereka mengenai berbagai hal.

Lumba-lumba melaksanakan perintah sang pelatih.*

Adanya intensitas pertemuan dengan para narasumber, sedikit atau banyak, cukup memberi kontribusi bagi pembentukan efek kognitif saya. Hal ini pula yang membuat penilaian saya terhadap atraksi lumba-lumba berubah drastis. Kini, saya tidak pernah lagi memandang pertunjukan tersebut sebagai “atraksi memukau”, melainkan lebih kepada salah satu bentuk dari “kekejaman terhadap satwa”.

***

Belum lama ini, Kota Bandung sempat dihebohkan dengan keberadaan atraksi lumba-lumba yang digelar di Lote Mart, Jalan Soekarno-Hatta. Saya memakai kata “heboh” karena pamflet dan iklannya ada di mana-mana. Mulai dari pusat Kota Bandung, komplek perumahan, Kawasan Jatinangor, dan – tentunya – di sepanjang Jl. Soekarno-Hatta.

Didorong rasa ingin tahu yang kuat, saya pun mencoba memaksakan diri untuk menyaksikan pertunjukan itu. Ya, saya ingin mengetahui dan memastikan, apakah rumor tentang adanya “kekejaman” terhadap atraksi lumba-lumba itu benar adanya?

Singkat cerita, akhirnya saya pergi ke tempat tersebut. Tepuk tangan puluhan pengunjung semarak membahana, saat dua ekor lumba-lumba bernama Brama dan Kumbara beraksi menunjukan kepintarannya dalam kolam semi permanen berdiameter sangat mini tersebut.

Dengan lincah, mamalia laut dari jenis lumba-lumba hidung botol (Tursiops truncatus) ini dapat melaksanakan instruksi dari pelatihnya dengan sangat akurat. Setiap usai melaksanakan suatu perintah, sang pelatih pun memberikan pujian dan menghadiahi lumba-lumba tersebut dengan melempar seekor ikan untuk ia santap. Wow!

***

Usai pertunjukan berlangsung, saya langsung coba untuk menelusuri keberadaan pihak penyelenggara, dengan tujuan untuk mengajaknya berbincang. Setelah bertanya kesana kemari, saya akhirnya berhasil bertemu dengan manager umum PT Wersut Seguni Indonesia (WSI). Sambil sedikit menghela nafas, saya memperkenalkan diri (baca: menyamar) sebagai salah satu pengagum sirkus lumba-lumba.

“Ya, tujuan kami menggelar penyuluhan dan pertunjukan atraksi lumba-lumba memang untuk menghibur masyarakat Kota Bandung, yang intinya juga memberi misi pendidikan untuk adik-adik pelajar,” katanya membuka percakapan.

Oke lah, argumen itu tampaknya masih bisa sedikit diterima akal sehat. Karena seperti yang diketahui, atraksi satwa itu dapat menghibur (orang awam) dan juga dapat mendidik (orang yang nggak kritis).

Saya pun melanjutkan pertanyaan, “Selain disini, biasanya PT WSI ini menggelar atraksi dimana?”

“Kalau untuk atraksi kita biasanya keliling, traveling show. Khusus di daerah Jawa Barat saja,” katanya menjawab.

Mulai perlu dipertanyakan. Bayangkan seekor lumba-lumba yang diangkut dari satu tempat ke tempat lainnya menggunakan tangki sempit, terombang-ambing di jalanan, dipaksa berpanas-panasan hanya untuk memenuhi ambisi bejat (sebagian) manusia: kebutuhan perut. Padahal dalam habitatnya, ia biasa melakukan manufer bersama puluhan lumba-lumba lain dengan jarak tempuh yang tak terbatas. Apakah si lumba-lumba itu nggak stress? Bayangkan bila Anda ada di posisi lumba-lumba itu.

Percakapan terus berlangsung dalam suasana santai disertai banyak basa-basi. Sampai akhirnya, saya bertanya perihal pertanyaan yang telah cukup lama saya simpan. Ya, pertanyaan yang cukup mengganjal saya beberapa waktu belakangan ini, “Di kolam ini pakai air laut ya? Cara ngangkut air laut sebanyak ini gimana, Pak?” tanya saya memancing.

“Kebetulan kita gak ngambil di laut yah, karena sulit ngambilnya. Karena air laut itu berkadar garam, jadi untuk kendaraan tangki pengangkutnya biasanya juga gak mau,” katanya.

“Jadi ini pakai air tawar?” saya memastikan.

“Kalau untuk air kita pake air PDAM yah, lalu diolah sendiri,” jawabnya singkat.

Dari perbincangan ini, satu fakta berharga yang berhasil saya buktikan adalah sebuah kenyataan bahwa gossip itu bukan isapan jempol belaka. Lumba-lumba tersebut hidup di dalam lingkungan yang tidak semestinya. “Sungguh ter… la… lu…,” mengutip perkataan Bang Haji Roma Irama.

Animal Walfare

Dari beberapa teman – yang dulu sempat menjadi narasumber saya – saya sempat mengenal istilah animal walfare. Animal welfare merupakan standar perlakuan pada seluruh satwa yang berinteraksi dengan manusia – baik dalam penangkaran/ kebun binatang – yang telah dicetuskan di Inggris sejak tahun 1992. Adapun dalam prinsip animal welfare tersebut, dikenal konsep “lima kebebasan” (five of freedom) yang mencakup:

  1. Bebas dari rasa haus dan lapar;
  2. Bebas dari rasa tidak nyaman;
  3. Bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit;
  4. Bebas untuk mengekspresikan perilaku normal;
  5. Bebas dari rasa takut dan intimidasi.

Sekarang, mari kita coba tarik korelasi antara animal welfare tersebut dengan keberadaan atraksi lumba-lumba yang saya saksikan. Dari hasil membaca dan diskusi, saya menemukan bahwa lumba-lumba yang biasa digunakan sebagai satwa atraksi sangat rentan mengalami penyimpangan perilaku. Dalam arena pelatihan sirkus, misalnya, mereka telah dibiasakan menjadi satwa peminta-minta (pengemis), karena lumba-lumba dibiasakan untuk melakukan perintah pelatih terlebih dahulu bila ingin mendapatkan makanan (Disarikan dari: Profauna Indonesia).

Hal ini jelas sangat bertolak belakang dengan kehidupan lumba-lumba di habitatnya yang terbiasa mencari makanan sendiri, mencari pasangan sendiri, serta bebas melakukan manufer bersama puluhan lumba-lumba lain dalam jarak tempuh yang tidak terbatas.

Selain itu, perlu juga diketahui pula bahwa mamalia laut ini merupakan hewan air laut. Sangat tidak berprikebinatangan bila menempatkan mereka dalam air tawar (atau air tawar yang dicampur garam).  Karena pada dasarnya, air laut tidak sebatas memiliki kandungan garam, tapi ada banyak lagi komponen lainnya. Tidak hanya itu, hewan yang biasa hidup di air laut pun jelas memiliki kebutuhan fisiologis yang berbeda dengan hewan yang hidup di air tawar.

Perlakuan tersebut jelas telah melanggar seluruh poin sekaligus dari prinsip animal welfare. Belum lagi bila dikaitkan dengan ukuran kolam yang sangat mini itu. Juga bila dikaitkan dengan hak setiap makhluk untuk berkembangbiak, karena yang saya tahu, hingga saat ini belum ada lumba-lumba yang dapat dikembangbiakan secara eksitu. Lengkap sudah penderitaan hewan ini.

Nah, apakah ini yang disebut sebagai wahana edukatif? Mungkin beberapa orang masih beranggapan bahwa pertunjukan ini merupakan suatu kehebatan. Bebas lah, semua orang boleh beropini. Hanya saya berpendapat, atraksi lumba-lumba hanyalah merupakan salah satu bentuk eksploitasi terhadap satwa.

Saya berharap, kalian yang telah baca blog ini bisa open mind dan bersikap lebih kritis dalam menilai mana hiburan yang ‘layak’ atau ‘nggak layak’ untuk disaksikan. Semoga saja dengan makin banyaknya orang yang sadar akan adanya kekejaman dibalik atraksi lumba-lumba, pertunjukan ini kelak tidak lagi diminati di belahan dunia manapun. Ya, semoga saja…***

Iklan

4 pemikiran pada “Kekejaman Dibalik Atraksi Lumba-Lumba!

  1. Saya googling tentang sirkus lumba-lumba keliling dan menemukan beberapa foto close-up lumba-lumba yang terlihat oh-i’m-so-happy .
    Akan tetapi, setelah membaca tulisan ini, rasanya wah….. *speechless*
    Dibalik kehebohan sirkus, dibalik ekspresi oh-i’m-so-happy-nya kepada pengunjung, fakta yang ada ternyata seperti ini.
    Fyi, dari beberapa artikel yang saya baca, saat mereka berpindah lokasi, lumba-lumba tersebut ditumpuk dalam container dengan air yang kurang, bisa dibilang hampir kering *sigh*. Saya tidak habis pikir dengan orang-orang yang memperlakukan lumba-lumba sedemikian rupa.
    Hal ini membuat saya tersadar bahwa sirkus lumba-lumba keliling ‘memang’ merupakan hiburan yang ‘tidak layak’ untuk dikonsumsi. Apa daya, masyarakat masih banyak yang buta.
    Yaah.. semoga saja dengan adanya sosialisasi isu lumba-lumba dari JAAN dan pihak lain kepada masyarakat, dapat menyadarkan dan memunculkan berbagai dukungan untuk menyelamatkan lumba-lumba.
    #SaveDolphins

    Suka

    • terimakasih banyak buat apresiasinya Mbak Farahsani 🙂

      ya, semoga saja semakin banyak orang yang sadar… Andai mereka tahu tentang bagaimana cara lumba-lumba ini diburu, saya yakin, mereka nggak akan berminat lagi berpartisipasi untuk menonton wahana kejam ini…

      #SaveDolphins

      salam.
      Albiansyah

      Suka

  2. habis googling tentang PT WSI ini, karena tadi pagi anak saya lihat atraksi lumba2 di kota kami. dan ketika melihat atraksi lumba2 itu, terus terang saya tidak merasa senang, malah pengen nangis (maaf, agak baper ya). lalu dari siang tadi sampai sekarang, saya cari2 info terus tentang atraksi lumba2 ini, dan kemudian mampirlah ke blog pak Albiansyah ini. saya setuju sekali dengan apa yang ditulis di sini. tidak ada nilai edukatifnya sama sekali. apa yang mau disampaikan dari atraksi lumba2 yg tidak berperikehewanan ini? tidak ada sama sekali. semoga atraksi lumba2 ini segera dihentikan dan hewan2 yang dijadikan *mesin pengeruk uang* segera dikembalikan ke habitatnya! terima kasih atas informasinya mas, Albiansyah 🙂

    Suka

    • Wah… Masih sering ya PT WSI gelar sirkus keliling? Padahal belakangan udah banyak dikecam.
      Semoga kedepannya makin banyak yang peduli sama lumba2.

      Terima kasih sudah mampir, Pak Luki 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s