Sang “Penjaga” Pura Tanah Lot


Ditengah ramainya wisatawan pengunjung Pura Tanah Lot.*

Tulisan ini adalah seri terakhir dari cerita perjalanan saya ke Pulau Dewata. Setelah sebelumnya menulis tentang “Kawasan Wisata Bule Kere”, “Eksploitasi Satwa Dibalik Wahana Tanjung Benoa” dan “Ternyata, Uang Rp.50.000,- Ada Disini!”, dalam tulisan kali ini, saya ingin sedikit berbagi cerita tentang mitos keberadaan sang penjaga Pura Tanah Lot. 

Obyek wisata ini berlokasi di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali. Setiap sore hari, kata salah satu penduduk lokal, kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan. Mereka datang tidak lain untuk menikmati keindahan sunset dari pantai ini.

Nah, terletak tepat berhadapan dengan Pura Tanah Lot, ada sebuah gua keramat kecil yang dipercaya sebagai tempat persemayaman dari sang penjaga Pura. Holy snake (ular suci), demikian mereka menyebutnya.

Plang tanda “ular suci” di pintu masuk gua keramat.*

Karena penasaran, saya memutuskan untuk memasuki gua keramat tersebut bersama adik bungsu saya. Ada dua orang kuncen berbusana khas adat Bali di dalam gua itu. Satu orang bertugas sebagai penunggu kencleng sumbangan, sedangkan seorang lagi tampaknya berperan sebagai pawang yang bertugas untuk memandu setiap wisatawan yang hendak melihat, bahkan menyentuh ular suci tersebut.

“Berdoa, minta biar dilancarkan semuanya,” kata salah satu kuncen, pada adik saya yang tengah mengelus ular suci itu, “Jangan lupa belajar yang rajin, patuh pada orang tua, jadi orang baik kalau sudah besar nanti.”

Saya terdiam sejenak mengamati ular berwarna belang hitam-putih tersebut. Secara sciencetific, jenis ular tersebut telah dapat teridentifikasi dengan mudah. Diliputi sedikit keraguan dan rasa penasaran, akhirnya saya memberanikan diri untuk menerobos rules yang telah saya pegang teguh dari jauh hari sebelumnya. “Harus berani menyentuh,” pikir saya dalam hati.

Seraya mencoba meyakinkan diri, perlahan-lahan, saya pun coba menyentuh tubuh ular tersebut dengan ujung jari, lalu mengelusnya dengan lembut. Si ular masih terlihat kalem. Ah, leggaaa… Untunglah tidak ada reaksi apapun hingga akhir saya menarik tangan dari lubang tempat ular suci tersebut bersarang.

Ular weling (Bungarus candidus), sosok yang dianggap sebagai ular suci penjaga Pura Tanah Lot.*

Jujur saja, meski terbilang telah memiliki jam terbang yang “lumayan” dalam hal handling ular, tapi baru kali ini saya memegang ular weling (Bungarus candidus) tanpa didampingi alat bantu seperti hook atau grab stick. Soalnya, walau dikenal memiliki sifat yang cenderung pasif (terutama di siang hari), namun ular dari famili elapidae ini terbukti mempunyai kadar bisa sangat tinggi.

Bersama beberapa kolega pecinta reptil, saya telah sering membahas tentang efek gigitan segala jenis ular berbisa (venomous). Beberapa diantaranya ada yang pernah menjadi korban gigitan, karena terpengaruh untuk meniru adegan sirkus konyol dalam film “Panji Sang Petualang”. Di daerah lain, bahkan tidak sedikit orang yang dilaporkan meninggal dunia karena tergigit ular berbisa.

Nah, itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak suka melihat adegan free handling ular berbisa seperti yang kerap disiarkan dalam acara Panji Sang Petualang, Gadis Petualang,  Steve Ewon, dan lain-lain. Kalau adegan itu ditiru orang awam seperti dalam contoh yang telah saya sebut sebelumnya? Kan repot juga! Ingat, media massa punya efek yang sangat besar untuk memengaruhi persepsi khalayaknya.

Jadi, rasanya gak penting juga untuk merasa kagum sama atraksi yang dipertontonkan oleh orang-orang itu deh. Karena sebenarnya, semua tayangan tersebut hanya sebatas REKAYASA non edukatif yang dibuat untuk kepentingan entertain semata. Ya, being a professional means to me mature enough not to do silly tricks in public to impress others. A professional is someone who should know better. *Semoga tulisan ini dibaca orang-orang yang bersangkutan!

Hmmm… Daripada jadi nulis ngalor-ngidul, mending kembali lagi ke topik holy snake (ular suci). Menurut saya, inilah salah satu pesona budaya di Indonesia. Kalau bicara masalah hal mistik, apa sih yang nggak ada disini? Jangankan cuma bikin jinak seekor ular berbisa, toh orang yang kebal bacok, kebal ditembak, kebal ditusuk, sampai orang yang “kebal hukum” pun dapat dengan mudah kita temui di negeri ini. #Ups!

***

Sekitar pukul 15:30, kendaraan yang saya tumpangi telah dalam perjalanan pulang meninggalkan Pura Tanah Lot. Namun, sosok ular suci tadi masih menjadi topik pembicaraan hangat kami di sepanjang perjalanan sore itu.

Ya, dalam perjalanan pulang ini, saya memang diminta banyak  bercerita tentang segala hal mengenai ular weling itu. Mulai dari penyebaran habitat, sifat alami, efek gigitan yang akan timbul bila tergigit, dan lain-lain (kecuali mitos, pastinya! Hehehe).

“Bukannya itu ular yang sering ditemui selokan ya?” adik saya bertanya.

“Ya, emang masih sering ditemui kok di daerah rumahan,” jawab saya.

“Aneh ya. Biasanya ular itu banyak bunuh, tapi disini mah malah dipuja-puja,” kata adik saya.

Ya. Buat orang awam seperti kami, semuanya mungkin memang terlihat aneh. Tapi sebenarnya, bukankah pada hakikatnya memang manusia adalah makhluk yang irasional?

Seluruh aktivitas ritual (kepercayaan) memang seringkali tidak dimengerti oleh orang lain diluar pemilik kepercayaan yang bersangkutan. Kalau memang semua kegiatan manusia harus rasional, untuk apa kita harus beribadah? Untuk apa juga kita harus percaya dengan keberadaan Tuhan yang wujudnya nggak terlihat? Mengapa orang yang meninggal harus didandani atau dipocongi terlebih dahulu sebelum dikubur?

Ah, sudahlah.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s