Parade Kesurupan Kuda Lumping


Pagelaran seni kuda lumping.*

Mata dua orang pemeran melotot sambil berjalan merangkak layaknya seekor kuda. Tatapan matanya yang kosong, jelas menyiratkan bahwa ia sedang tidak sadarkan diri. Dibawah teriknya sinar matahari siang itu, mereka tetap asyik menari mengiringi irama tabuhan gendang. Sesekali, salah satu pemeran dari kelompok yang menamakan diri sebagai Seni Reak Pusaka Sunda ini melakukan gerakan meloncat dan salto.

Ya, inilah bentuk pagelaran seni kuda lumping. Jika biasanya fenomena kesurupan (kemasukan makhluk halus) menjadi momok menakutkan yang kehadirannya selalu dihindari oleh setiap orang, dalam kesenian ini, makhluk halus tampaknya memang sengaja “disurupkan” dalam jiwa setiap pemerannya.

Pawang kuda lumping mengendalikan penonton kesurupan yang lost kontrol.*

Beberapa menit kemudian, ketika irama musik mengalun semakin cepat, tujuh orang penonton secara serempak ikut kesurupan. Tubuh mereka menegang sesaat, kemudian langsung meraung, menjungkirkan badan, bahkan ada pula yang menggesek-gesekan wajahnya ke tanah.

Dengan sigap, beberapa kru kuda lumping yang tampak berperan sebagai pawang langsung menghampiri penonton yang kesurupan dengan tujuan untuk mengendalikan situasi. Hanya dengan mengusap wajahnya, seketika saja penonton yang kesurupan tadi seolah langsung menjadi bagian dari penari kuda lumping. Dengan penuh penghayatan, mereka lalu ikut serta menari dengan gerakan seperti kuda sambil mengiringi tabuhan alat musik.

Awalnya saya menikmati sajian acara ini bersama sang pacar, Neng Rita. Namun entah kenapa, ketika saya sedang sedikit lengah, ia menghilang tiba-tiba ditengah padatnya kerumunan orang. Belakangan diketahui, ternyata ia kabur ke barisan paling belakang karena takut melihat orang yang kesurupan (*padahal saya sendiri selalu terobsesi “ingin bisa” kesurupan). Hahaha!

Semakin lama, acara berjalan makin meriah karena jumlah penonton yang kesurupan terus bertambah. Meski terlihat sedikit aneh, namun keberadaan penari kuda lumping dadakan yang didominasi oleh kalangan remaja ini berhasil membuat saya takjub.

Para penonton pun ikut kesurupan.*

Hari itu, Sabtu (17/11/2012), saya memang sengaja datang ke tempat ini untuk menikmati suguhan kesenian di acara bertajuk “Festival Seni Budaya Jatinangor 2012” yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Padjadjaran. Selain untuk menghabiskan waktu berakhir pekan, saat itu, saya juga bermaksud mengambil foto kuda renggong untuk dikirim ke salah satu majalah di kelompok Kompas Gramedia-Group of Magazine.

Penonton yang baru disadarkan dari kesurupan.*

Namun tanpa disangka, selain kuda renggong, ternyata disini saya juga dapat menjumpai kembali seni kuda lumping dengan “warna” yang sedikit berbeda.

Sekitar delapan atau sembilan  tahun lalu, saya pernah menonton seni kuda lumping. Entah karena perbedaan aliran atau memang seni kuda lumping telah bertransformasi dalam bentuk yang baru, yang jelas,  ada dua hal berbeda dalam gelaran seni kuda lumping kali ini dengan yang pernah saya saksikan sebelumnya.

Pertama, kesurupan massal. Dalam seni kuda lumping yang dulu pernah saya saksikan, arwah kuda hanya merasuki para pemain. Tidak ada penonton yang ikut kesurupan seperti yang saya jumpai di tempat ini.

Kedua, atraksi kuda lumping dari grup “Seni Reak Pusaka Sunda” ini tidak menyuguhkan hal yang terlalu ekstrim. Jika dahulu saya pernah menyaksikan para pemain kuda lumping yang disuruh mengunyah beling, mengupas kelapa dengan gigi dan memakan ikan mentah (dalam keadaan hidup), disini bentuk atraksi serupa tidak saya temukan.

Tapi bagaimanapun bentuknya, untuk saya, keberadaan seni kuda lumping dapat selalu menjadi hiburan yang memiliki daya pikat tersendiri. Semoga saja kesenian tradisional ini dapat tetap bertahan ditengah gempuran budaya modern yang terus menerus menerpa bangsa ini.***

Iklan

4 pemikiran pada “Parade Kesurupan Kuda Lumping

  1. nuhun kang sudahmau nulis tentang acara yg kita adain 🙂 makaaasih udah sangat bantu untuk tetap mempertahan kan dan memperluas tentang kesenian2 di jabar khususnya eheheh makasih sekali lg saya perwakilan dari seluruh panitia mengucapkan terimakasih 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s