Bahasa: Menyoal Bulu dan Rambut


“Besok dokter hewan mau kesini, disuruh nyuntik Si Liu. Kasihan, bulunya rontok terus,” kurang lebih demikian yang dikatakan mama pada saya belum lama ini.

Besoknya, sang dokter hewan tersebut pun datang ke rumah. Kepada mama dan saya, ia menjelaskan tentang penyebab terjadinya kerontokan tersebut. Lagi-lagi, dokter hewan itu juga menggunakan istilah ‘bulu’ untuk menunjukan rambut yang tumbuh di tubuh kucing saya.

Saya tidak mengerti, kenapa hingga saat ini masyarakat masih suka mengeneralisasikan penggunaan kata “bulu” dan “rambut”. Padahal, keduanya jelas memiliki arti yang berbeda jauh. Bukankah kita sudah pernah diajari untuk membedakan keduanya saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dulu?

Bukan hanya mama dan dokter hewan, nyatanya, jurnalis di beberapa media massa pun seringkali salah kaprah menggunakan kedua kata tersebut dalam tulisannya. Pada berita berjudul “Gen Penentu Pola Warna Kucing” di rubrik sains Kompas.com hari Minggu (29/9/2012), misalnya. Jurnalis tersebut menuliskan sebagai berikut:

“Kucing yang memiliki pola garis pada bulunya, disebut juga pola ‘mackerel’, memiliki gen yang ditemukan.”

Selain itu, saat memberitakan tentang membludaknya populasi kucing liar di Jakarta, hari Kamis (08/11/2012) lalu, portal berita online Detik.com menuliskan sebagai berikut:

“Kondisi tersebut sebenarnya telah membuat para pengunjung rumah makan di sejumlah lokasi di Jakarta Utara terganggu. Pasalnya, kucing yang muncul selalu dalam kondisi dengan luka terbuka hingga bulu yang berterbangan.”

Berbeda dengan kedua media online diatas, Majalah Flona – media bulanan segmentasi hobi dan bisnis flora dan fauna – tidak pernah menggunakan kata bulu ketika menuliskan laporan tentang kucing, anjing atau mamalia lainnya. Berikut ini adalah contoh petikan dari Majalah Flona edisi Januari 2013 ketika sedang mengulas tentang tips merapikan rambut kucing:

“Alat ini kerap digunakan untuk membentuk potongan rambut kucing agar terlihat mengembang. Sisir seperti ini kerap digunakan pada rambut di bagian ekor. Sehingga mampu mengembang optimal.”

Selengkapnya, dapat kita lihat pada tulisan yang telah saya beri garis biru di bawah ini (*klik gambar untuk memperbesar):

Majalah Flona

Sumber: Majalah Flona edisi Januari 2012

*

Sekedar mengingatkan, mari sejenak kita refresh kembali pelajaran biologi yang sangat dasar tersebut. Menurut wikipedia, bulu adalah suatu struktur epidermis yang membentuk penutup luar. Bulu merupakan ciri utama yang membedakan Kelas Aves dari yang lain.

Lebih simple lagi, sejauh pengelihatan saya, bulu memiliki banyak cabang diluar batang utamanya (lihat pada burung atau ayam). Masih pusing? Nah, biar gak pusing, mari langsung perhatikan struktur anatomi dari bulu:

via federn.org

via federn.org

Sedangkan rambut adalah suatu organ berbentuk seperti benang yang tumbuh di kulit mamalia, termasuk juga manusia. Rambut tumbuh dari akar yang ada dalam lapisan dermis dan melalui saluran folikel rambut ke luar dari kulit (Catatan: definisi ini saya kutip dari salah satu website, tapi sumbernya lupa lagi, hehe!). Dibawah ini adalah struktur anatomi dari rambut:

via 123rf.com

via 123rf.com

Sekarang, sudah mulai jelas kan bedanya?

*

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mungkin tidak asing lagi dengan  sebutan bulu ketek, bulu kuduk, bulu mata, atau bulu hidung. Orang-orang dari Suku Sunda seperti saya bahkan telah cukup akrab dengan kata – maaf sebelumnya – bulu baok, untuk menyebutkan rambut yang tumbuh di sekitar alat kelamin (jembut).

Deasy Christina Siallagan, sahabat saya yang bekerja sebagai reporter di Prevention Indonesia Magazine (Kompas Gramedia Grup) mengatakan bahwa di medianya, penggunaan kata ‘bulu ketek’ biasa ditulis dengan sebutan ‘bulu ketiak’. Sedangkan ‘jembut’ ditulis menjadi ‘bulu pubis’.

Berbeda dengan Majalah Prevention diatas, salah satu artikel di Tabloid Nova Online tampaknya lebih memilih menggunakan istilah ‘rambut kemaluan’. Berikut petikannya:

“Ada banyak teori yang mengatakan apa sesungguhnya fungsi rambut kemaluan pada manusia. Salah satunya, yaitu merangsang pasangan secara seksual melalui feromon.”

Lantas, mana penggunaan kata yang lebih tepat? Sebelumnya, mari kita lihat definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di bawah ini:

bu·lu n 1 rambut pendek dan lembut pd tubuh manusia (bukan di kepala) atau binatang: — kaki; — kucing2 struktur lapisan luar kulit yg membentuk penutup tubuh bangsa unggas; kumpulan rambut banyak dan bertangkai spt pd unggas: — ayam3 serabut halus pd tumbuh-tumbuhan; miang: — padi; — daun;

Bila mengacu pada definisi di atas, tentu saja penggunaan kata ‘bulu ketiak’ atau ‘bulu pubis’ dapat dibenarkan. Tapi secara pribadi, saya sendiri kurang setuju. Kalau sudah ada penjelasan tentang “bulu” dan “rambut” secara lebih ilmiah, kenapa masih harus menyamakan penggunaan kedua kata tersebut?

Dapatkah Anda bayangkan ketika ketiak, hidung, mata, dada dan jembut kita ditumbuhi oleh bulu (dalam arti sesungguhnya)? Hehehe.

Sekian saja lah! Semoga bisa sedikit bermanfaat.***

Iklan

4 pemikiran pada “Bahasa: Menyoal Bulu dan Rambut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s