Jokowi yang Dicintai


“Pemimpin yang paling efektif adalah mereka yang mempunyai gaya konsisten, sesuai dengan tuntutan situasi.” – (Pace & Faules)

via solopos.com

via solopos.com

Masjid Sunda Kelapa yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat memang selalu ramai pengunjung. Selain sebagai tempat ibadah, di depan Masjid tersebut kita dapat menemukan berbagai jenis jajanan, mulai dari nasi goreng, sate, bakso tahu, batagor, gorengan, dan lainnya.

Suatu hari, selepas melaksanakan liputan bersama tim GlobalTV, saya bersama Ade Jonkoping (juru kamera) dan Agus Bedel (driver) sengaja mampir ke tempat tersebut untuk makan sekaligus sejenak beristirahat.

Ditengah perbincangan santai sore itu, tampak seorang wanita paruh baya mondar-mandir tidak jauh dari posisi kami berada. Sambil menyapu dedaunan kering yang jatuh di atas aspal, mulutnya tidak berhenti ngomel, “Pak Jokowi itu orang baik. Orang baik kayak gitu kok masih saja ada yang nge-demo,” ucapnya.

Saya sempat melayangkan senyum ke arah nenek itu, namun tidak berbalas. Sikapnya dingin dan pandangannya kosong. Meski demikian, berbagai guaman tentang sosok Jokowi terus mengalir dari mulutnya.

“Lihat saja, Tuhan lebih tahu apa yang terjadi,” kata nenek itu sambil sedikit berteriak. “Coba bandingin sama Foke, orang sombong! Gak peduli nasib rakyat bawah. Emang kurang ajar,” emosinya tampak makin menjadi-jadi.

Saya yang semula mengabaikan keberadaan nenek itu, sontak jadi heran dan bertanya-tanya. “Sepertinya ada yang nggak beres,” pikir saya. Belakangan diketahui, nenek tersebut ternyata memang menderita gangguan jiwa.

Teringat perbincangan dengan dr. Lahargo Kembaren, SpKJ. beberapa waktu sebelumnya, saya menyimpulkan bahwa wanita tua ini mengalami skizofrenia, suatu gangguan penilaian realitas, dimana seseorang tidak menyadari antara hal yang nyata dan tidak nyata. Dalam sebuah kesempatan wawancara, psikiater dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Marzoeki Mahdi, Bogor, Jawa Barat ini mengatakan, orang yang bersangkutan biasanya mendapat halusinasi, seperti mendengar adanya suara bisikan. Outputnya, penderita gangguan jiwa ini dapat mengomentari bisikan-bisikan yang didengarnya tersebut.

Tapi sudahlah! Disini, saya bukan mau menjelaskan tentang pelajaran psikologi atau gangguan jiwa. Intinya, satu pelajaran berharga yang bisa saya petik dari fenomena ini adalah: “Orang sakit jiwa pun mencintai Jokowi.”

*

Tidak seperti pejabat publik lain yang (terkadang) mesti kewalahan mengundang awak media agar bisa diliput, Joko Widodo tampaknya lebih sering kewalahan karena selalu ditempel oleh puluhan wartawan setiap hari. Beberapa media bahkan secara khusus menempatkan wartawan di desk “DKI 1” agar bisa memperoleh berita paling aktual dari Jokowi.

Ya, sejak didapuk menjadi Gubernur DKI Jakarta pada bulan Oktober 2012 lalu, berbagai terobosan baru terus dilakukannya. Tidak heran jika setiap hari, para pemburu berita selalu stand by di hadapan rumah dinas atau pelataran Balai Kota hanya untuk mengintip aktivitas yang ia lakukan.

Dari beberapa kali perjumpaan dengan dirinya, saya semakin paham, mengapa pria satu ini betul-betul dicintai banyak orang. Sosoknya sederhana, pekerja keras, tidak terlalu mengekspos eksklusivisme seperti pejabat publik lainnya, serta memiliki cara berkomunikasi yang menurut saya cukup efektif.

Salah satu gaya khas yang cukup populer dari Jokowi adalah blusukan ke kawasan kumuh, atau tempat lain yang dianggap ‘bermasalah’. Tidak perlu menggunakan pengawalan ketat dari barikade aparat, ataupun mempersiapkan upacara untuk menyambut kedatangannya. Seringkali, blusukan yang dilakukan oleh Jokowi malah bersifat mendadak dan tidak terjadwal.

Tanpa segan, ia melakukan interaksi dengan masyarakat sekitar yang ditemuinya. Seolah tidak ada sekat pembatas antara ‘sang rakyat’ dengan ‘sang pemimpin’, seringkali masyarakat menumpahkan curahan hatinya pada Jokowi.  Dengan melakukan kegiatan ini, menurutnya, ia dapat lebih mengetahui secara langsung permasalahan yang terjadi di lapangan.

Belakangan, aksi blusukan semacam ini mulai banyak ditiru oleh sejumlah pejabat dan politisi, dengan harapan dapat meraih simpati publik. Tapi menurut saya, masyarakat pun tidak bodoh. Mereka tentu dapat membedakan sendiri, mana blusukan yang tulus dan mana blusukan yang tujuannya untuk sekedar mencari popularitas. “Barang tiruan tetap gak akan semulus yang original,” kata salah satu kawan saya, saat tengah bersama meliput aksi blusukan seorang pengusaha sukses, yang belakangan tertarik untuk terjun ke dunia politik.

*

Sama seperti pemimpin lainnya, sebuah kebijakan tidak akan selamanya berjalan sempurna. Pada saat peluncuran program Kartu Jakarta Sehat (KJS) misalnya. Meski mayoritas orang sangat menyambut baik program ini, dalam kenyataannya, di sebagian kalangan lain KJS malah menuai kontroversi. Soalnya, sejak pertamakali diluncurkan, banyak rumah sakit yang kewalahan untuk menampung membludaknya jumlah pasien. Bayangkan saja, sejumlah rumah sakit di wilayah DKI Jakarta mengalami peningkatan pasien hingga 200% setiap harinya.

Sebenarnya, masih ada beberapa program lain dari Jokowi juga yang dianggap mengalami masalah. Tapi bakal terlalu panjang juga kalau saya ceritakan semuanya disini. Hehehe. Intinya, dalam masalah penentuan kebijakan, menurut saya Jokowi juga termasuk orang yang berani dalam mengambil keputusan.

Saat mengetahui programnya memiliki kendala, Jokowi langsung mengambil langkah antisipasi dengan melakukan cara lain. Ketika plan A telah dinilai bermasalah, dia telah mempersiapkan plan B, plan C, dan plan-plan lainnya sebagai jalan keluar.

Di akhir bacotan ini, saya mau komentar sedikit . . . Rakyat di negeri ini tampaknya memang sedang haus akan sosok pemimpin ideal yang dapat berempati pada penderitaan rakyat bawah. Ketika figur Jokowi muncul ke permukaan dengan berbagai gayanya yang khas, tidak heran bila pada akhirnya masyarakat mencintai gaya kepemimpinannya itu.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s