Bentrok Beruntun


Kabar itu tersebar dengan begitu cepat. “Pemerintah akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat!”

source: bumn.go.id

source: bumn.go.id

Menjelang sore hari, Sabtu (16/6/2013), puluhan awak media telah berkumpul di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat. Mereka menunggu kehadiran beberapa tokoh partai politik, organisasi masyarakat (Ormas), hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM), yang seluruhnya menentang rencana pemerintah untuk  menaikan harga BBM dan kebijakan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

Selain untuk menyuarakan aspirasi, dalam kesempatan itu, mereka mengajak seluruh elemen masyarakat (khususnya mahasiswa) untuk melakukan pemberontakan terhadap rencana yang hendak digulirkan pemerintah tersebut. Soalnya, hanya gerakan mahasiswa yang dinilai dapat memberi perubahan atas keberadaan situasi ini.

“Hanya gerakan mahasiswa yang didukung oleh gerakan rakyat yang dapat menghentikan rencana rezim SBY – Boediono untuk menaikan BBM,” ujar  salah satu politikus dengan sangat berapi-api. “Kita ingat ketika tahun 1998, mahasiswa berjuang mati-matian untuk menentang rezim orde baru. Kini saatnya mereka bergerak kembali!”

Konfrensi pers tersebut berlangsung sekitar satu jam. Pasca politikus membubarkan diri, masing-masing media melakukan wawancara door stop dengan narasumber yang ada di sana. Mulai dari PDIP, Partai Gerindra, Partai Hanura, Ormas Bendera, Ormas Perindo, Pemuda Kebangsaan, Aktivis Petisi 28 dan lainnya.

Di tempat tersebut, saya sengaja mewawancarai Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, secara terpisah dari wartawan lain. Bila situasi memungkinkan, saya memang lebih suka melakukan wawancara tersendiri ketimbang door stop secara beramai-ramai. Selain agar terlihat lebih eksklusif, melakukan wawancara secara pribadi juga memungkinkan saya dapat mengambil angel yang berbeda dari wartawan lain.

Kepada saya, Neta menuturkan prediksinya bahwa akan terjadi aksi demo besar-besaran di 33 kota yang ada di Indonesia. “Dari ke -33 kota ini, ada delapan kota yang kita lihat akan sangat radikal nanti,” katanya.

Ia melanjutkan argumennya bahwa kini masyarakat sudah tidak memiliki ketakutan yang berarti terhadap pihak kepolisian. Terbukti, sepanjang tahun 2012 lalu, ada 85 kantor polisi yang dibakar masyarakat. “Saya kira mahasiswa nggak akan takut. Mereka akan siap melawan polisi kapanpun,” ungkap Neta.

Rusuh Pertama (Senin, 17 Juni 2013)

Ribuan aparat kepolisian dikerahkan untuk bersiaga di halaman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) sejak pagi hari. Di luar pagar, mahasiswa serta buruh yang juga berjumlah ribuan, tengah sibuk melakukan orasi dengan membawa sejumlah spanduk berisi penolakan terhadap kenaikan harga BBM.

Ya, hari itu saya tengah ditugaskan untuk memantau situasi di DPR-RI. Di dalam ruang paripurna sana, anggota parlemen tengah sibuk membahas tentang rancangan Anggaran Pengeluaran Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013.

Mislimin, camera person GlobalTV.

Mislimin, camera person GlobalTV.*

Pukul 18:00, aparat kepolisian mengultimatum para pengunjuk rasa agar segera membubarkan diri. Soalnya, deadline yang diberikan untuk menyampaikan aspirasi telah melewati batas kesepakatan. Para pengunjuk rasa enggan beranjak dari tempatnya. Mereka bersikukuh ingin menunggu hingga rapat pembahasan APBN-P 2013 rampung di dalam sana. “Kami ingin menunggu keputusan dari wakil rakyat kami,” kata salah satu pengunjuk rasa.

Singkat cerita, akhirnya polisi mencoba untuk mengambil tindakan tegas dengan membubarkan mereka secara paksa. Seperti yang dapat diprediksi sebelumnya, kerusuhan pun tak dapat terhindarkan.  Kubu pengunjuk rasa mulai menghujani aparat kepolisian dengan batu dan bom molotof.

Tidak mau tinggal diam, polisi mulai menurunkan mobil water canon  dan mobil barracuda untuk menghadang massa yang makin beringas. Mereka juga melontarkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa. Aparat kepolisian akhirnya berhasil membubarkan kerumunan demonstran sekitar pukul 20:00 WIB.

Sementara itu, rapat di ruang paripurna berakhir pada pukul 22:00 WIB. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, rapat berakhir dengan keputusan disahkannya APBN-P 2013.

Hasil voting menunjukan bahwa ada 338 suara dari lima partai, yaitu Partai Demokrat, Golkar, PAN, PPP dan PKB yang menerima APBNP 2013. Sedangkan 181 suara dari empat partai, yaitu PDIP, PKS, Gerindra dan Hanura menolak rancangan APBNP 2013.

Rusuh Kedua (Selasa, 18 Juni 2013)

Merasa tidak puas dengan putusan anggota parlemen yang akhirnya menyetujui APBN-P 2013, puluhan mahasiswa Universitas Bung Karno terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Mereka dituduh telah mengganggu ketertiban umum karena melakukan orasi dengan membloking setengah ruas jalan di sekitar Jl. Diponegoro, Cikini, Jakarta Pusat. Akibatnya, arus lalu lintas tersendat. Terjadi kemacetan sekitar 200-300 meter di kawasan tersebut.

Suasana makin memanas ketika mahasiswa mulai memprovokasi aparat dengan melempari batu, kayu dan bom molotof. Momen ini tentu saya tidak dilewatkan oleh Soleram, kameramen senior GlobalTV. Dengan cekatan, kamera Panasonic tipe HPX250 yang dibawanya langsung membidik suasana itu.

150 orang aparat kepolisian yang diterjunkan tampak mulai tersulut emosi. Setelah mengeluarkan beberapa kali tembakan peringatan, polisi lalu melontarkan gas air mata ke arah para pengunjuk rasa. Mahasiswa masih melakukan perlawanan dengan melempari batu, maupun bom molotof yang telah disiapkan sebelumnya.

Suasana makin panas. Puluhan wartawan yang sejak awal berada di kubu pengunjuk rasa, mulai menjaga jarak aman. Meski telah mengoleskan pasta gigi di bawah mata, dengan tujuan untuk menetralisir dampak gas air mata, efek asap tersebut masih saja terasa menusuk.

Moren Wangean, mahasiswi magang yang kebetulan tengah mengikuti aktivitas saya, terlihat mulai terkena imbasnya. Matanya berair, hidungnya mulai tampak memerah. “Kamu temenin Bang Bedel aja di mobil aja,” saya memberi instruksi.

Kerusuhan berlangsung tarik – ulur dalam jangka waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, sekitar pukul 10:15, para mahasiswa membubarkan diri setelah polisi menekan mereka sampai ke dalam kampus.

Rusuh Ketiga (Rabu, 19 Juni 2013)

Untuk kedua kalinya, Universitas Bung Karno kembali membara. Pukul 19:00, saya bersama Yudi Rizaldi diperintahkan untuk memantau suasana disana. “Mahasiswa kayaknya mau main lagi tuh,” kata Bang Belek, sapaan akrab Dadan Hardian, saat menghubungi saya via telepon. Driver langsung tancap gas.

Tiba di Jl. Diponegoro sekitar pukul 19:30, aksi blokir jalan dan pembakaran ban telah digelar. Ritme bentrokan tidak jauh dengan satu hari sebelumnya. Mahasiswa yang awalnya dengan lantang berteriak, “Kami bukan generasi pengecut!!!”, langsung lari kocar-kacir begitu polisi bergerak maju dan melontarkan gas air mata.

Sekitar 300 meter dari lokasi bentrokan itu, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) melakukan aksi serupa. Mereka juga terlibat bentrok dengan petugas kepolisian di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), setelah sebelumnya melakukan aksi blokir jalan.***

.

.

.

NB:

– Prediksi Neta S Pane, Ketua Presidium IPW seperti yang telah saya ceritakan di bagian awal,  sepertinya tidak meleset. Selain di DKI Jakarta, bentrokan juga terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia.

– Saat nulis blog ini, saya sedang menghabiskan waktu untuk liburan di Kota Bandung. Sementara ini, saya gak mau memikirkan dulu tentang adanya kerusuhan lanjutan, dll… #bodoamat #sekian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s