Terpana di Sindangkerta


Tepat pada bulan ini, sekitar empat tahun lalu, mungkin saya tengah asyik menikmati panorama keindahan pantai berpasir putih, sambil ditemani tarian eksotis dari kawanan penyu yang singgah di tempat itu…

Sindangkerta

Foto: Dok. Albiansyah, bulan Juli – Agustus 2009.*

Ada lumayan banyak pantai yang pernah saya kunjungi di Jawa Barat. Di Kabupaten Garut, misalnya, saya pernah mengunjungi Pantai Santolo, Ranca Buaya dan Sancang.

Selain itu, jauh di bagian selatan Kota Sukabumi, saya juga pernah menjamah beberapa pantai, seperti Pelabuhan Ratu, Ujung Genteng, Pangumbahan, dan beberapa pantai kecil lainnya.

Kalau untuk deretan pantai yang berada di Kabupaten Ciamis, seperti Pantai Karang Nini, Pangandaran, hingga Batu Karas, nggak usah ditanya lagi. Dari zaman masih orok, orang tua saya cukup sering mengajak saya bermain kesana.

Tapi diantara semua tempat yang saya sebut diatas, hanya ada satu pantai yang betul-betul saya kenal baik. Bukan hanya karena panorama keindahan alam serta keramahan penduduknya, pantai yang berjarak sekitar 185 km dari Kota Bandung ini telah mengukir memori tersendiri bagi kehidupan saya.

*

Sebagai salah satu mahasiswa yang – kebetulan – berkesempatan untuk mengecap pendidikan di perguruan tinggi negeri, saya diwajibkan untuk melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Konon katanya, mata kuliah ini merupakan perwujudan dari salah satu poin dalam “Tri Dharma Perguruan Tinggi”, yaitu pengabdian pada masyarakat.

Tim KKN Sindangkerta, Unpad, 2009.*

Tim KKN Sindangkerta, Unpad, 2009.*

Bersama 27 mahasiswa lain dari berbagai fakultas di Universitas Padjajaran (Unpad), secara kebetulan, saya mendapat lokasi KKN di Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Jujur saja, awalnya saya sempat bingung. “Tempat macam apa ini?” pikir saya. Ketika coba bertanya, dosen serta panitia penyelenggara program KKN pun tidak banyak yang tahu tentang desa ini. Karena sialnya, kami adalah mahasiswa angkatan pertama yang ditempatkan untuk melakukan pengabdian di Desa Sindangkerta.

Browsing di internet pun percuma. Tahun 2009 lalu, tidak banyak data dan informasi yang dapat saya peroleh tentang tempat ini. Hanya ada satu hal yang kami tahu: Sindangkerta merupakan kawasan pantai.

Saya sumringah . . .

Kontur Pantai

Berbeda dengan pantai lain yang pada umumnya memiliki kontur datar dan landai, Pantai Sindangkerta nampaknya lebih didominasi oleh bongkahan batu karang. Kondisi ini sama sekali diluar ekspektasi. Karena sebelumnya, saya sempat berkhayal akan dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti berenang, snorkeling, naik jetski bahkan diving. Hahaha.

Pantai Sindangkerta lebih didominasi batu karang.*

Kontur Pantai Sindangkerta lebih didominasi batu karang.*

Untungnya, kekecewaan terhadap pantai ini tidak berlangsung lama. Semakin sering saya menapaki berbagai sudut di kawasan tersebut, sisi eksotisme dari sang ‘pantai karang’ ini makin terlihat jelas.

Salah satunya adalah tentang keberadaan ragam biota laut yang dapat kita temui secara langsung di sela-sela karang. Ada bintang laut, berbagai jenis ikan kecil berwarna-warni, kumang, hingga hewan berbentuk mirip ulat (gak tau namanya apa). Saya menganggapnya sebagai aquarium alami, yang tentu saja keindahannya tidak perlu diragukan lagi.

Oh iya, meski kita mudah terpesona oleh keindahannya, hendaknya tetap berhati-hati bila tengah berjalan diantara batu karang tersebut. Soalnya, banyak pula bulu babi yang bisa saja sewaktu-waktu menusuk kaki Anda. Bahkan, sekali waktu saya juga pernah menemui keberadaan ular laut di tempat ini. Perlu diketahui, ular ini merupakan salah satu spesies ular berbisa tinggi, yang dapat membunuh manusia hanya dalam hitungan menit.

Tidak cukup sampai disitu, ada pula sebuah spot berbentuk seperti parit, yang terbelah diantara batu karang dan langsung menjorok ke laut lepas. Warga sekitar biasa menyebutnya dengan istilah “selokan wangi”. Berikut adalah gambaran dari selokan wangi itu (perhatikan tanda panah warna merah):

selokan wangi.*

Selokan wangi.*

Meski sepintas hanya terlihat seperti parit biasa, menurut warga sekitar, selokan wangi ini cukup dalam dan memiliki arus bawah laut yang kencang. Tidak heran bila tempat ini disukai oleh banyak spesies ikan laut untuk bersemayam. Karena itu juga, setiap harinya warga sekitar biasa terlihat meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas memancing.

Berbeda dengan warga sekitar yang tampaknya doyan memancing. Pada sore hari, saya lebih merasa tertarik nongkrong di pinggir selokan wangi hanya untuk mengamati keberadaan penyu. Ya, tempat ini juga memang menjadi favorit bagi kawanan penyu untuk beraktivitas. Mereka kerap terlihat timbul dan tenggelam ditengah gulungan ombak yang menyapu kawasan tersebut.

Rumah Singgah Penyu

1

Di depan kantor Balai Konservasi Sumbar Daya Alam (BKSDA), Sindangkerta.*

Tidak semua pantai dapat dijadikan lokasi bagi penyu untuk bertelur. Secara insting, reptil dari ordo Testudinata ini akan memilih sendiri tempat yang dirasa cocok untuk mereka melakukan aktivitas reproduksi. Kebetulan, lokasi kami melaksanakan KKN ini, merupakan satu diantara sedikit pantai yang menjadi kawasan favorit bagi balada penyu betina untuk bertelur.

Pada bulan-bulan tertentu, di tempat ini, Anda akan dapat menyaksikan secara langsung proses penyu yang tengah bertelur. Tapi sayang, karena saat tiba di Pantai Sindangkerta musim bertelur telah lewat, kami tidak dapat menyaksikan prosesi ini secara langsung.

Tukik penyu hijau (Chelonia mydas).*

Tukik penyu hijau (Chelonia mydas).*

Kekecewaan kami sedikit terobati, karena kebetulan, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat masih menyimpan dua ekor tukik (anak penyu) yang belum sempat dilepasliarkan. Kedua ekor tukik penyu hijau (Chelonia mydas) ini ditempatkan dalam aquarium kaca cukup besar, yang berada di bagian dalam ruanga kantor.

Saat tengah berbincang, petugas BKSDA tersebut mengatakan, dari masa ke masa, penyu yang mendarat ke pantai ini untuk bertelur makin sedikit saja jumlahnya. Kepada kami, ia juga sempat memperlihatkan tabel yang berisi tentang jumlah produktivitas penetasan telur dari tahun ke tahun.

Haidar Arfan, koordinator desa.*

Haidar Arfan, koordinator desa.*

Sebagai mahasiswa Jurusan Biologi yang seringkali mempelajari perilaku satwa, Haidar Arfan, salah satu peserta KKN yang menjabat sebagai koordinator desa, memiliki pendapat tersendiri mengenai hal tersebut. Menurutnya, bibir pantai yang biasa menjadi lokasi penyu untuk bertelur, kini berjarak terlalu dekat dengan tempat lalu-lalang kendaraan bermotor. “Penyu sensitif terhadap cahaya dan getaran,” katanya.

Oya, selain kedua tukik diatas, dalam kantor tersebut, petugas setempat juga menyimpan satu ekor penyu hijau memiliki kelainan genetik, yang berukuran cukup besar. Sebut saja istilahnya penyu albino.

Berbeda dengan penyu lainnya yang berwarna hitam disertai degradasi kecoklatan, penyu satu ini didominasi oleh warna putih di hampir seluruh tubuhnya. Pada bagian kerapas atau cangkangnya, terdapat corak berwarna coklat muda disertai degradasi kehijauan. Sedangkan matanya terlihat berwarna hitam kebiruan.

Penyu hijau albino.*

Penyu hijau albino.*

Penyu hijau albino ini bisa juga dibilang sebagai ‘penghuni tetap’ kantor BKSDA tersebut. Petugas setempat mengatakan, sebelumnya, mereka pernah beberapa kali mencoba untuk melepasliarkan reptil satu ini ke habitat aslinya di laut lepas. Namun uniknya, beberapa hari setelah dilepaskan, penyu ini selalu kembali ditemukan mendarat di bibir pantai. Karena itulah, pada akhirnya petugas setempat memutuskan untuk memelihara penyu ini dalam kolam penampungan yang berukuran cukup mini. Ah, penyu, malang sekali nasibmu 😦

Sekedar informasi, penyu merupakan salah satu hewan yang keberadaannya telah dilindungi oleh undang-undang, baik tingkat nasional maupun internasional. Convention and International Trade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES ) memasukan hewan ini dalam kategori Appendix 1. Artinya, segala bentuk perdagangan atas spesies tersebut merupakan suatu yang dilarang dan ilegal.

Mengejar Matahari (Terbenam)

Karena takut dikira menyontek film “Mengejar Matahari” besutan sutradara handal Rudy Sujarwo yang mulai dirilis tahun 2004 lalu, saya sengaja menambahkan kata “Terbenam” pada sub judul tulisan ini.

Ya, menikmati sunset merupakan salah satu aktivitas yang juga cukup menarik untuk dinikmati di Pantai Sindangkerta. Kalau sedang ada waktu luang selepas melaksanakan program kerja KKN, kami cukup sering jalan-jalan untuk menyaksikan fenomena tenggelamnya matahari dari tepi pantai ini.

Tapi sayang, karena di desa saya ini tidak ada yang punya kamera SLR, momen ini hanya dapat kami abadikan melalui kamera pocket seadanya. Foto diambil secara acak melalui kamera saya, Rini dan Made. Inilah beberapa gambaran semu dari suasana tersebut:

1

2

3

4

Sajian Kuliner

lauk

Ikan bakar.*

Menulis soal kawasan wisata, rasanya kurang lengkap kalau gak sekalian cerita masalah sajian kuliner. Karena berlokasi di kawasan pantai, jelas saja makanan paling khas yang mudah ditemui di tempat ini adalah ikan laut. Hehehe.

Sepintas memang tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi jangan salah, konon katanya, tempat ini merupakan salah satu pemasok ikan laut ke beberapa restoran seafood besar yang ada di sekitar Jawa Barat. Oleh karenanya, tidak heran kalau harga yang ditawarkan disini, jauh lebih murah dibanding dengan yang ada di daerah perkotaan.

ikannn

Ikan goreng Pamayang.*

Ngomong-ngomong soal makan ikan laut, saking banyaknya yang saya cicipi, saya sampai gak ingat persis jenis apa saja yang pernah saya makan. Yang jelas, suatu hari, saya sempat merasa bosan juga gara-gara makan ikan melulu.

Oya, tidak jauh dari lokasi Desa Sindangkerta berada, tepatnya di Desa Pamayangsari, terdapat sebuah tempat yang telah terkenal sebagai perkampungan nelayan. Di lokasi itu, ada sebuah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang menjajakan berbagai jenis ikan laut, mulai dari ikan pari, cucut, kakap, kerapu, bawal, cumi, lobster dan lain-lain. Bahkan suatu hari, saat saya mengunjungi tempat ini untuk membeli ikan, saya sempat juga melihat anak ikan hiu yang telah terbujur kaku dalam bongkahan es. Woowww!

Tepat dihadapan TPI itu, ada banyak rumah makan yang juga menjajakan berbagai masakan laut dengan harga yang negotiable. Ya, saran saya, jangan lupa tawar harga kalau mau beli makanan disini. Soalnya, kadang-kadang mereka juga sering pasang harga yang seenak jidat, apalagi kalau yang mau beli orang “asing”. Maklum juga sih, namanya juga pedagang. Hehehe.

Sekian dulu ceritanya. Semoga saja, suatu hari nanti saya masih punya umur untuk kembali mengunjungi tempat ini.***

 

==============

Dedicated to my big family, team KKN Sindangkerta Unpad 2009:

Haidar Agiel Abdulah Arfan, Indah Srie Lestari, Resdita Ayusa Putri, Ala Nurdin, Dewi Isnaini Fadilah, Malahayati, Triayu Septiani, Muhamad Girang Tamyiz Nagendra, Fahrizal Budiman, Karlina Maryam (Dechi), Annisa, Yandi Hardi Purba, Grace Agustina, Raniyah, Rini Rahmawati, I Made Rupawan, Hotman Maradongan Manurung, Marrisa Ginting, Nina Anggraeni Ginting, I Wayan Agustara, Fernandes Pakpahan, Anggraena Diova Ritonga, Ayu Lestari, Yana Supriatna, Sani Nurlatifah, Rusdatus Solihah & Kiki Megasari. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s