Pesan Alam di Balik Kematian Sang Biduan


Saya cukup terkejut, saat menerima kiriman berita dari kontributor MNC Media di wilayah Karawang, Jawa Barat, Muhammad Fachrudin. “Ada penari ular mati dipatuk king kobra,” kata Chaik, koordinator daerah yang tengah bertugas hari itu, Selasa (5/4/2016).

Saya baru paham dengan apa yang terjadi, pasca memperhatikan naskah dengan seksama. Dinilai layak tayang, liputan tersebut pun menjadi salah satu materi yang masuk dalam list berita di Buletin Indonesia Siang, GlobalTV.

Kematian Irma menjadi sorotan media asing.*

Kematian Irma jadi sorotan media asing.*

Karena ditunjuk untuk menyunting berita itu, saya langsung melanjutkan penelusuran dengan membaca berita di sejumlah media online. Tak hanya skala lokal, pemberitaan tentang Irma nyatanya juga ramai diperbincangkan oleh sejumlah media asing, mulai dari The Australian, Malaysia Kini, Mirror, Reptiles Magazine, dan masih banyak yang lain.

Pencarian informasi mencapai titik klimaks, saat pada website YouTube, jemari saya mengetik key word sederhana bertuliskan “irma bule ular”. Disana, deretan aksi Irma yang tengah menggelar pentas bersama puluhan ekor ular telah banyak diunggah. Saya gemetar!

*

Irmawati atau yang akrab disapa Irma Bule, bukan orang baru di panggung dangdut lokal. Tak hanya menampilkan sisi erotis tubuh seperti biduan dangdut pada umumnya, ia juga kerap menggunakan ular sebagai properti penampilannya.

Puncaknya, terjadi saat ia tengah manggung pada sebuah acara hajatan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Seekor king kobra (Ophiophagus hannah) menunjukan amarahnya dengan menggigit dan menyuntikan bisa di bagian paha kiri Irma.

Nyawanya mungkin dapat tertolong, andai saat itu ia mendapat penanganan tepat dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sayang, tim atraksi yang mendampinginya malah mempercayakan pengobatan dengan cara tradisional yang dilakukan oleh sang pawang.

Orang awam bisa saja terpukau dengan aksi yang ia lakukan. Namun harus jujur dikatakan, saya sangat emosi melihat perlakuan Irma terhadap hewan melata tersebut.

Bayangkan saja saat ular tersebut harus terpontang-panting mengikuti “gerakan kasar” yang ia lakukan. Belum lagi mulut ular yang seringkali ditutup dengan lakban, untuk mengantisipasi ular tersebut menggigit sang penari.

Tak hanya itu, dari salah satu artikel yang saya baca, sang pawang biasa mencabut bisa ular sebelum digunakan pentas. Padahal perlu diketahui, selain untuk melumpuhkan mangsa, protein yang terkandung dalam bisa ular juga berfungsi bagi mereka untuk mencerna makanan. Dengan kata lain, tanpa adanya bisa, jelas saja hewan berdarah dingin ini tak lagi dapat makan secara normal. Bukankah itu tindakan sangat kejam?

Dibalik duka serta rasa belasungkawa pada keluarga yang ditinggalkan, saya pikir, mungkin ini adalah ganjaran setimpal yang ‘dihadiahkan’ alam untuknya.

*

Berdasarkan pengakuan sang ayah, Irma biasa menerima upah sekitar Rp. 300.000,- dalam sekali pentas. Jelas bukan nominal yang besar, bila dibandingkan dengan potensi kerusakan alam yang mungkin saja terjadi kemudian hari.

Sebagai pecinta hewan, saya tahu betul tentang jenis ular yang kerap ia bawa beraksi. Meski mayoritas bukan dari jenis dilindungi, saya berani memastikan bahwa seluruh ular tersebut merupakan hasil perburuan liar.

Jika terus dibiarkan, saya khawatir, kegiatan ini pada akhirnya malah mengganggu keseimbangan alam. Karena seperti yang diketahui, alam dan manusia akan selalu memiliki hubungan timbal balik yang berkesinambungan. Terganggunya salah satu komponen ekosistem, tentu akan berpengaruh pada komponen lain yang ada didalamnya.

Selain Irma, aksi serupa juga kerap dipertontontonkan oleh biduan dangdut lain, yakni Dewi Sanca. Seolah tanpa penyesalan, Dewi bahkan tampak dingin saat mengetahui beberapa ekor ularnya mati usai digunakan pentas. Padahal jelas, kematian hewan tersebut terjadi karena kelalaian dirinya. Berikut cuplikannya:

Disadari atau tidak, selama ini, banyak program acara di stasiun televisi yang turut andil dalam menebar sensasi dengan cara serupa. Beberapa diantaranya pernah disiarkan di tempat saya sendiri bekerja, yakni Panji Sang Petualang, Gadis Petualang atau Steve Ewon.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada kreator dan sejumlah rekan lain yang turut merintis program itu, jujur saya katakan, bahwa saya tidak suka dengan sajian acara tersebut. Selain minim unsur edukatif, terlalu banyak rekayasa yang dilakukan dalam proses pembuatannya.

Parahnya lagi, seorang bocah yang terobsesi melihat gaya Panji di TV, akhirnya tewas mengenaskan usai mempraktikan gerakan mencium ular. Namun syukurlah, kini seluruh program tersebut telah ditiadakan.

Semoga saja, kedepannya hal-hal menyedihkan seperti yang telah diceritakan tadi, tidak  kembali terulang. Ingat, alam akan selalu dapat menunjukan amarahnya dengan cara-cara yang tak terduga.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s