Predator Lestari, Alam Terkendali!


Salah satu dosa besar yang pernah saya lakukan adalah gemar memelihara satwa liar. Beberapa jenis diantaranya, belakangan ini, bahkan telah masuk dalam kategori hewan langka yang dilindungi undang-undang.

Jangan samakan kondisinya dengan saat ini. Belasan tahun lalu, sosialisasi terkait perlindungan satwa langka tidak terlalu masif. Akses penyebaran informasi belum canggih, jauh berbeda dengan di era internet seperti masa kini. Tidak banyak dokumentasi yang saya miliki, kecuali foto satu satu ini…

Monyet

Kera, salah satu satwa liar yang sempat saya pelihara sekitar tahun 2002.*

Saya memang lahir dari keluarga penyayang binatang. Ibu saya sejak lama memiliki kegemaran memelihara kucing. Sebagian besar peliharaannya merupakan kucing-kucing terlantar yang ditemukan dari pinggir jalan. Ada pula kucing tersasar yang datang sendiri ke rumah untuk mengais makanan.

Sementara itu bapak saya lebih suka memelihara ikan, mulai dari jenis koi, kumpay, lele belang, hingga sapu-sapu. Untuk menampung peliharaannya itu, bapak membuat kolam mini berukuran sekitar 3 x 3 meter di halaman belakang rumah kami.

Ekspresi cinta terhadap hewan ternyata juga menular pada saya. Salah satunya dengan memelihara burung elang bondol (Haliastur indus) yang dibeli dari pedagang kaki lima di Jalan Merdeka, Kota Bandung. Belum lekang dalam ingatan, sekitar tahun 2004, saya yang masih duduk di bangku SMA membelinya dengan mengumpulkan sisa uang jajan selama beberapa bulan.

elang bondol

Elang bondol (Haliastur indus). Sumber: Wikipedia

Alasannya tak lain karena rasa iba. Tak tega rasanya melihat burung tersebut terjemur di bawah terik sinar mentari sambil terpapar polusi kendaraan bermotor. Dengan membelinya, saya pikir, sang predator akan dapat hidup lebih layak. Ia akan mendapat lebih banyak makanan, dengan kandang yang (sedikit) lebih luas. Sesederhana itu.

*

Waktu terus berlalu seiring dengan perubahan teknologi yang begitu cepat. Semakin banyak referensi, semakin saya mengerti bahwa ekspresi cinta saya terhadap satwa ternyata salah kaprah. Secara tidak langsung, saya ternyata telah berkontribusi terhadap perusakan ekosistem. Menghilangkan salah satu komponen penting dalam puncak rantai makanan.

Seperti kita tahu, rantai makanan adalah proses makan dan dimakan antar makhluk hidup. Dalam perputarannya, ada makhluk yang berperan sebagai produsen, konsumen hingga pengurai. Berkurangnya predator di alam liar jelas akan berpengaruh pada peningkatan jumlah mangsanya. Pada akhirnya, kita sendiri sebagai manusia yang akan menanggung akibat dari over populasi hewan yang menjadi mangsa.

Bukan rahasia umum jika kabar tentang petani yang mengalami gagal panen cukup banyak terjadi di sejumlah wilayah Tanah Air. Masalah utama, yakni karena hama tikus merusak ladang persawahan dan memakan padi yang hampir siap panen. Tak hanya menimbulkan dari sisi ekonomi, potensi kerugian pun bisa jadi datang dari sisi kesehatan. Kita tahu, tikus merupakan hewan pengerat pembawa barbagai virus dan bakteri yang mengancam kesehatan.

Tidak dapat dipungkiri, masalah ini merupakan sebuah dampak berkesinambungan yang muncul akibat rusaknya ekologi. Saat top predator atau pemangsa puncak dalam rantai makanan keberadaannya terus berkurang, saat itu pula manusia akan menanggung rugi dengan makin bertambahnya populasi hewan lain yang ada di bawahnya.

Rantai makanan. Sumber: forum.teropong.id

Semua ini sebenarnya merupakan teori biologi dasar yang telah sering dibahas dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam semasa Sekolah Dasar (SD). Sayangnya, cukup banyak orang – termasuk saya – yang kurang sensitif untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Over populasi hama tikus (mestinya) masih dapat dikendalikan oleh keberadaan ular-ular kecil. Sialnya lagi, ular pun banyak dibunuh manusia tanpa alasan yang jelas. Padahal, hanya terdapat sekitar 5% dari -/+ 250 jenis ular di Indonesia yang berbisa mematikan, sehingga perlu dihindari. Selebihnya merupakan ular-ular biasa yang tidak berbahaya bagi kehidupan manusia.

*

Elang bondol yang saya beli sudah menghilang entah kemana. Saat itu, saya hanya sempat memeliharanya beberapa bulan, sebelum akhirnya ia berhasil meloloskan diri dari kandangnya. Saya sempat menghibur diri dengan berpikir, “Syukurlah, mungkin sekarang dia bisa hidup bebas.”

Namun masalah belum berakhir. Pertanyaan selanjutnya, akankah ia mampu bertahan hidup? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Yang jelas, semuanya pasti tidak akan berjalan dengan mudah. Butuh waktu lama untuk mengembalikan naluri liar seekor predator. Semakin lama berada dalam pemiliharaan, semakin sulit pula ia bisa “dipulangkan” ke habitat alaminya.

Elang yang telah lama berada dalam asuhan manusia, cenderung akan kehilangan instingnya sebagai burung pemangsa. Bagaimana tidak, sehari-hari ia hanya terbiasa mendapat asupan makanan yang telah disediakan sang majikan. Kemampuan terbangnya pun mungkin tak lagi sempurna, karena ia lama terkurung di kandang sempit.

Saat masih bertugas sebagai reporter di lapangan, saya pernah bertemu dengan Femke Den Haas, salah satu aktivis Jakarta Animal Aid Network (JANN). Ia merupakan warga Negara Belanda yang punya kepedulian sangat tinggi pada satwa liar Indonesia.

Femke

Wawancara dengan Femke Den Haas, 2014.*

Di luar topik wawancara, kami memperbincangkan berbagai hal tentang hewan, termasuk soal burung elang. Pengetahuannya seputar konservasi sangat luas. Dari Femke pula, saya banyak memperoleh informasi tentang proses rehabilitasi satwa liar yang (ternyata) cukup rumit. Ada serangkaian tes kesehatan, karantina, masuk dalam kandang sosialisasi, hingga tahapan pra rilis.

Waktu rehabilitasi pun memakan waktu cukup lama, tergantung kondisi dari satwa bersangkutan. Bisa berbulan-bulan, bahkan hingga bertahun-tahun. “Ada juga yang seumur hidup tidak bisa dirilis, karena kondisinya tak memungkinkan,” kurang lebih, demikian yang dikatakan Femke saat itu.

Semakin banyak tahu, rasa penyesalan atas kesalahan masa lalu semakin membayangi. Ah, sudahlah, menyesalinya saja sudah tentu tidak akan mengubah apapun. Justru semestinya ini menjadi pelajaran berharga, agar kesalahan yang sama tidak saya ulangi lagi di masa mendatang.

Sebelum mengakhiri tulisan, ijinkan saya mengutip kalimat terkenal dari salah satu sosok inspiratif asal India:

The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated. – Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat diukur dari cara memperlakukan satwa.”

(Mathama Gandhi)

Mari bergerak!***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s